Fatin - Cahaya Di Langit Itu (OST 99 Cahaya Di Langit Eropa)
Diposting oleh
Unknown
on Minggu, 05 Januari 2014
/
Comments: (0)
Profil Albaert Einstein
Diposting oleh
Unknown
/
Comments: (0)
Albert Einstein (lahir di Ulm, Kerajaan Württemberg, Kerajaan Jerman, 14 Maret 1879 – meninggal
di Princeton, New Jersey, Amerika
Serikat, 18 April 1955 pada umur 76 tahun) adalah seorang ilmuwan fisika
teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalamabad ke-20.
Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak
menyumbang bagi pengembangan mekanika
kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi.
Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada
tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek
fotolistrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".
Setelah
teori relativitas umum dirumuskan, Einstein
menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang
ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan
dalam sejarah,
dan dalam budaya populer, kataEinstein dianggap
bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius.
Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.
Untuk menghargainya, sebuah satuan
dalam fotokimia dinamai einstein,
sebuah unsur kimia dinamai einsteinium,
dan sebuah asteroiddinamai 2001 Einstein.
Rumus
Einstein yang paling terkenal adalah E=mc².
Biografi
Masa muda dan universitas
Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar
100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang
penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia,
dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga
mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan
atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.
Pada umur lima tahun, ayahnya
menunjukkan kompas kantung,
dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini
beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan
pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya.
Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai
hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia,
sifat pemalu, atau karena
struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti
setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori
relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam
tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan
kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini,
tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom
Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.
Einstein mulai belajar matematika pada
umur dua belas tahun. Ada isu bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang
pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat
bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan
ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal
remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada
tahun 1894,
dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dariMünchen ke Pavia, Italia (dekat
kota Milan).
Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester
sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.
Kegagalannya dalam seni liberal
dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut
Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah
mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan
sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa
kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun
berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg,
dan menjadi tak bekewarganegaraan.
Pada 1898, Einstein menemui dan
jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang
merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla).
Pada tahun 1900,
dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische
Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini
Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman
dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama
Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl
Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya
tidak menikah.
Kerja dan Gelar Doktor
Pada saat kelulusannya Einstein
tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda
yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya
mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss
pada tahun1902.
Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk
alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya
aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur
bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang
membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.
Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein
dengan Mileva, seorang matematikawan. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari
pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di
Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah
menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen"
("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.
Pada tahun yang sama dia menulis
empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang
dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang
teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek
fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan
Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang
mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena
Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek
fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari
jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam
setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke
konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan
para ilmuwan selama beberapa dekade.
Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke
"Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers"
(dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan
Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk
merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein pada tahun 1905 sebagai Tahun
Fisika 2005.
Gerakan Brownian
Di artikel pertamanya pada tahun 1905 bernama "On
the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles
Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian.
Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu
kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang
memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan
bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan
keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga
kontroversial.
Sebelum thesis ini, atom dikenal
sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan
sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik
Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk
menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm
Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa
ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brown.
Kematian
Pada 17 April 1955, Albert Einstein
mengalami pendarahan internal yang disebabkan oleh pecahnya suatu aneurisma
aorta perut, yang sebelumnya telah dilakukan pembedahan oleh Dr Rudolph Nissen
pada tahun 1948. Ia mengambil konsep pidato, ia sedang mempersiapkan untuk
penampilan televisi memperingati ulang tahun Negara Israel ketujuh dengan
kondisi di rumah sakit, tapi dia tidak hidup cukup lama untuk menyelesaikannya.
Einstein menolak operasi, mengatakan: "Saya ingin pergi ketika saya ingin.
Hambar untuk memperpanjang hidup artifisial. Saya telah melakukan bagian saya,
sekarang saatnya untuk pergi, aku akan melakukannya dengan elegan..." Dia
meninggal di Rumah Sakit Princeton, pagi, pada usia 76, setelah terus bekerja
sampai mendekati akhir.
Selama autopsi, ahli patologi dari
Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey, menghapus otak Einstein untuk
pengawetan tanpa izin dari keluarganya, dengan harapan bahwa ilmu saraf masa
depan akan mampu menemukan apa yang membuat Einstein begitu cerdas. Einstein
tetap dikremasi dan abunya tersebar di sebuah lokasi yang dirahasiakan.
Dalam ceramahnya pada peringatan
Einstein, fisikawan nuklir, Robert Oppenheimer, meringkas kesan pribadinya
tentang Einstein: "Dia hampir seluruhnya tanpa kecanggihan dan sepenuhnya
tanpa keduniawian ... Selalu ada bersamanya kemurnian indah sekaligus
kekanak-kanakan dan keras kepala mendalam."
MAKALAH KEKERASAN GURU TERHADAP SISWA DILINGKUNGAN SEKOLAH
Diposting oleh
Unknown
/
Comments: (2)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Salah
satu permasalahan pendidikan yang dihadapi sekolah pada umumnya adalah
kekerasan guru terhadap siswa yang masih sering terjadi dilingkungan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF (2006) di
beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% kekerasan yang
terjadi pada siswa dilakukan oleh guru. Kita tahu bahwa sekolah merupakan
tempat siswa menimba ilmu pengetahuan dan seharusnya menjadi tempat yang aman
bagi siswa. Namun ternyata di beberapa sekolah terjadi kasus kekerasan pada
siswa oleh guru. Kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada siswa
seperti dilempar penghapus dan penggaris, dijemur di lapangan, dan dipukul. Di
samping itu siswa juga mengalami kekerasan psikis dalam bentuk bentakan dan
kata makian, Kasus-kasus kekerasan sangat berlawanan dari peran
seorang guru sebagai pendidik, pengajar, dan pembimbing. Kuriake mengatakan bahwa di Indonesia cukup banyak guru yang menilai cara
kekerasan masih efektif untuk mengendalikan siswa (Phillip, 2007). Padahal cara
ini bisa menyebabkan trauma psikologis, atau siswa akan menyimpan dendam, makin
kebal terhadap hukuman, dan cenderung melampiaskan kemarahan dan agresi
terhadap siswa lain yang dianggap lemah. Lingkaran negatif ini jika terus
berputar bisa melanggengkan budaya kekerasan di masyarakat. Untuk itu pada
kesempatan ini penulis akan membahas mengenai kekerasan pada siswa dan apa yang
harus dilakukan oleh masing-masing pihak yang terkait.
B.
Rumusan
masalah
Adapaun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengapa kekerasan sering terjadi dalam
dunia pendidikan?
2. Bagaimana dampak kekerasan pada siswa?
3. Bagaimana cara mengatasi kekerasan dalam
dunia pendidikan?
C. Tujuan
Adapun tujuan pada makalah berikut adalah sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi
penyebab terjadinya kekerasan pada siswa oleh guru
2. Menguraikan dampak
kekerasan guru terhadap siswa
3. Menetapkan solusi
yang yang tepat untuk mengatasi kekerasan pada siswa
BAB II
PEMBAHASAN
A. TINJAUAN KEKERASAN DARI BERBAGAI LANDASAN
Kekerasan adalah tindakan yang tidak terpuji dan tentunya sangat
bertentangan dengan berbagai landasan dalam pendidikan. Berikut paparan
mengenai kekerasan bila ditinjau dari berbagai landasan pendidikan di
Indonesia:
· Tinjauan dari Landasan Hukum Pendidikan
Kekerasan dalam pendidikan sangat
bertentangan dengan:
1. pasal 3 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “fungsi
pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab”.
2. Tentang kekerasan fisik, pada
pasal 80 UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dinyatakan sebagai
berikut:
1). Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman
kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp
72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).
2). Dalam hal anak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00
(seratus juta rupiah).
3). Dalam hal anak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah).
4). Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang
melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.
Kemudian yang berkaitan dengan kekerasan seksual:
Pasal 82
“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat
3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta
rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”
(UU Perlindungan Anak)
Selanjutnya secara khusus, undang-undang ini bahkan mengamanatkan bahwa
anak-anak wajib dilindungi dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh siapapun,
termasuk guru di sekolah.
Pasal 54
“Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan
kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam
sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.”
(UU Perlindungan Anak)
Jika melihat undang-undang tersebut, sesungguhnya sudah sangat nyata bahwa
tindakan kekerasan terhadap anak merupakan tindakan kriminal yang pelakunya
akan diproses secara hukum. Tindakan kekerasan dengan bungkus pendidikan juga
dapat mengakibatkan pelaku dikenai tindak pidana, sebagaimana disebutkan dalam
pasal 80 UU. No. 23 tahun 2002.
·
Tinjauan dari Landasan Psikologi Pendidikan
Dampak yang timbul dari efek kekerasan adalah siswa menjadi pendiam atau
penyendiri, minder dan canggung dalam
bergaul, tidak mau sekolah, stres atau tegang, sehingga tidak konsentrasi dalam
belajar, dan dalam beberapa kasus yang lebih parah dapat mengakibatkan bunuh
diri. Kekerasan yang dilakukan oleh guru sangat bertentangan dengan pendapat
Freedman (Pidarta, 2007:220) yang menyatakan bahwa guru harus mampu
membangkitkan kesan pertama yang positif dan tetap positif untuk hari-hari
berikutnya. Sikap dan perilaku guru sangat penting artinya bagi kemauan dan
semangat belajar anak-anak. Jadi, hukuman yang dilakukan oleh guru akan menjadi
kesan negatif yang berdampak negatif pula dalam proses belajar anak.
·
Tinjauan dari Landasan Sosial Budaya
Pada landasan sosial budaya, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan
hubungan antarindividu, individu dan kelompok dan antarkelompok serta
mengembangkan nilai-nilai budaya Indonesia. Namun, hal tersebut hanya menjadi
wacana saat kekerasan terjadi dalam pendidikan. Siswa tidak dapat mengembangkan
hubungan yang baik antarindividu, individu dan kelompok dan antarkelompok
ketika “budaya senioritas” masih melekat di sekolah. Di sisi lain, terkikisnya
budaya bangsa yang dikenal dunia dengan sopan santunnya akibat maraknya tindak
kekerasan khususnya dalam dunia pendidikan.
B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Penyebab kekerasan terhadap peserta didik bisa terjadi karena guru tidak
paham akan makna kekerasan dan akibat negatifnya. Guru mengira bahwa peserta
didik akan jera karena hukuman fisik. Seharusnya guru memperlakukan murid
sebagai subyek, yang memiliki individual differences (Eko
Indarwanto,2004). Kekerasan bisa terjadi karena pendidik sudah tidak atau
sangat kurang memiliki rasa kasih sayang terhadap murid, atau dahulu ia
sendiri diperlakukan dengan keras. Selain itu kekerasan oleh guru pada siswa
disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
·
Kurangnya pengetahuan guru bahwa kekerasan
itu tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku,
·
Persepsi guru yang parsial dalam menilai
siswa. Misalnya, ketika siswa melanggar, bukan sebatas menangani, tapi mencari
tahu apa yang melandasi tindakan itu,
·
Adanya hambatan psikologis, sehingga dalam
mengelola masalah guru lebih sensitive dan reaktif,
·
Adanya tekanan kerja guru: target yang
harus dipenuhi oleh guru, seperti kurukulum, materi, prestasi yang harus
dicapai siswa, sementara kendala yang dihadapi cukup besar,
·
Pola yang dianut guru adalah mengedepankan
factor kepatuhan dan ketaatan pada siswa, mengajar satu arah (dari guru ke
murid),
·
Muatan kurikulum yang menekankan pada
kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan kemampuan efektif, sehingga guru
dalam mengajar suasananya kering, stressful, tidak menarik, padahal mereka
dituntut mencetak siswa-siswa berprestasi,
·
Tekanan ekonomi, pada gilirannya bisa
menjelma menjadi bentuk kepribadian yang tidak stabil,seperti berpikir pendek,
emosional, mudah goyah, ketika merealisasikan rencana-rencana yang sulit
diwujudkan.
C. SOLUSI MASALAH
Karena sekolah dan guru yang kurang tegas maka murid jadi bebas sehingga
tidak mengindahkan norma-norma dan peraturan yang ada. Misalnya murid akan
berpenampilan seenaknya sendiri seperti preman atau spg, bebas bolos sekolah
tanpa hukuman yang berat, bebas melakukan kenakalan di luar batas kewajaran,
meremehkan guru, dan lain sebagainya.
Oleh karena itulah maka diperlukan
peran pemerintah untuk membuat delapan standar pendidikan yang baik yang dapat
membuat murid takut dalam artian yang baik. Guru seharusnya boleh menghukum
siswa yang nakal dan tidak disiplin dengan sedikit kekerasan dan hukuman fisik
agar para siswa-siswi takut dan terpacu untuk belajar, patuh, taat, hormat,
disiplin, bertanggung jawab, tahu aturan, dan lain sebagainya.
Beberapa solusi yang diberikan untuk mengatasi kekerasan pada siswa di sekolah
diantaranyan adalah sebagai berikut:
a)
Menerapkan pendidikan tanpa kekerasan di
sekolah
b)
Mendorong/mengembangkan humaniasi
pendidikan;
- Menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran,
- Membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus,
- Suasana belajar yang meriah,gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, menjadi suatu kekuatan yang integral.
- Menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran,
- Membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus,
- Suasana belajar yang meriah,gembira dengan memadukan potensi fisik, psikis, menjadi suatu kekuatan yang integral.
c)
Hukuman yang di berikan berkolerasi dengan
tindakan anak,
d)
Terus menerus membekali guru untuk
menambah wawasan pengetahuan, kesempatan, pengalaman baru untuk mengembangkan
kreativitas mereka.
e)
Konseling,Bukan siswa saja membutuhkan
konseling, tapi juga guru. Sebab guru juga mengalami masa sulit yang
membutuhkan dukungan, penguatan, atau bimbingan untuk menemukan jalan keluar
yang terbaik.
f)
Segera memberikan pertolongan bagi siapa
pun juga yang mengalami tindakan kekerasan di sekolah,dan menindak lanjuti
serta mencari solusi alternatif yang terbaik.
Ada 7 hal yang harus dipahami dan kemudian diterapkan oleh pendidik untuk
memperoleh kepercayaan anak didik agar mencapai maksud dari pendidikan itu,
tanpa harus menggunakan kekerasan.
1. Tindakan alternatif
Cara pendidikan tanpa kekerasan digambarkan sebagai sebuah cara ketiga atau
alternatif ketiga, setelah tindakan menyalahkan dan aksi kekerasan karena hal
itu. Seorang pendidik yang melihat kesalahan seorang siswa, mempunyai tiga
pilihan setelah itu, apakah dia akan menyalahkannya, menggunakan kekerasan
untuk memaksa siswa memperbaiki kesalahan itu atau menggunakan cara ketiga yang
tanpa kekerasan. Menahan diri untuk tidak menyalahkan tentu bukan perkara mudah
bagi orang dewasa apabila melihat sebuah kesalahan dilakukan oleh anak di depan
matanya. Tapi perlu diingat bahwa sebuah tudingan bagaimanapun akan
berbuah balasan dari anak, karena secara insting dia akan mempertahankan
dirinya. Reaksi atas sikap anak yang membela diri inilah yang ditakutkan
akan berbuah kekerasan dari pendidik terhadap anak didik.
2. Keakraban penuh
keterbukaan
Keakraban maksudnya berbagi dengan orang lain dengan tidak membeda-bedakan
anak-anak didik, dan terbuka adalah tidak menutup-nutupi hal apa pun atau
mencoba mengambil keuntungan dari hal-hal yang tidak diketahui
siswa. Sebuah keakraban yang penuh keterbukaan hanya bisa terjalin apabila
adalah rasa persaudaraan kemanusiaan antara pihak pendidik dan siswa. Di dalam
keakraban ada kasih sayang, keramahan, sopan-santun, saling menghargai dan
menghormati. Sedang keterbukaan mengandung unsur kejujuran, kerelaan dan
menerima apa adanya. Keakraban yang terbuka ini ibarat pintu bagi masuknya
sebuah kepercayaan. Ketika anak didik sudah merasakan keakraban yang
terbuka dari gurunya, maka dia dengan senang akan mendengarkan apa pun yang
disampaikan oleh sang guru.
3. Komunikasi yang jujur
Penipuan adalah sesuatu yang sulit dipisahkan dari kekerasan, disebabkan
kurangnya rasa hormat kepada orang lain atau takut terhadap kenyataan.
Tindakan dengan kasih sayang didasarkan pada ukurannya dalam kebenarannya
setiap orang, yang tidak bisa memisahkan dirinya dari kebenaran dan kenyataan. Jadi,
untuk menjadi benar kepada diri sendiri, kita juga harus benar terhadap orang
lain. Sampaikan kepada anak didik kebenarannya, arahkan kemarahan kita
terhadap kesalahannya, bukan kepada orangnya. Temukan solusi dalam konflik
dan kesalahpahaman, dan itu tidak bisa dibangun apabila kita menggunakan
kebohongan dan penipuan.
4. Hormati Kebebasan dan Persamaan
Di dalam pendidikan tanpa kekerasan ini, kita semuanya bebas dan setara,
setiap orang mendengarkan suara nurani sendiri dan saling berbagi perhatian. Lalu
kemudian dengan bebas diputuskan, berdasarkan pada semua pertimbangan
individu-individu, bagaimana keinginan bersama ingin diwujudkan. Dengan
demikian kita harus mengenali dengan jelas kebebasan memilih dan hak yang sama
setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan itu. Yang lebih penting lagi
adalah kita menyadari persamaan semua manusia dan menghormati kebebasan anak
didik sama seperti kita menghendaki kebebasan kita sendiri dihormati.
Tindakan tanpa kekerasan bukanlah bentuk usaha untuk mengendalikan yang
lain atau penggunaan paksaan terhadap mereka. Jika kita mencintai anak
didik, kita menghormati otonomi mereka untuk membuat keputusan-keputusan mereka
sendiri. Kita pasti dapat berkomunikasi dengan mereka, dan kita bahkan dapat
menghadapi mereka dengan kehadiran kita untuk memaksa mereka tanpa kekerasan
untuk membuat sebuah pilihan, jika kita yakin mereka telah melakukan kesalahan.
Perbedaan yang penting adalah kita tidak memaksa mereka secara fisik atau
dengan kasar untuk mencapai apa yang kita inginkan.
5. Saling mempercayai secara penuh
Cara dengan kasih sayang didasarkan pada keyakinan bahwa jika kita
bertindak dengan cara yang baik tidak akan pernah merugikan bagi siapapun, dan
akan menghasilkan kebaikan juga. Alih-alih mengendalikan anak didik
dengan ancaman dan kekuasaan kita, lebih baik menggunakan kecerdasan
masing-masing pihak untuk memecahkan masalah dengan komunikasi yang baik dan
negosiasi.
Untuk mempercayai anak didik secara penuh kita harus melepaskan kepercayaan
itu dari kendali kita sendiri, dan membiarkan situasi memprosesnya. Tentu
saja melepaskan kepercayaan tidak berarti kita mempercayai dengan membabi buta.
Kita harus tetap memonitor apa yang terjadi dan memantau hasilnya secara
terus menerus.
6. Ketekunan dan kesabaran
Dalam pendidikan tanpa kekerasan, kesabaran adalah kebaikan yang bersifat
revolusioner. Kesabaran bukanlah sebuah pembiaran tanpa tindakan apa pun,
tetapi peningkatan kualitas dari sebuah pertolongan yang bertahan pada
tuntutannya, dan melanjutkannya dengan cara cerdas penuh ketenangan.
Ketika kita terperangkap dalam situasi konflik, emosi kita sering sangat
aktif dan bergolak. Kita harus hati-hati dengan reaksi tanpa pemikiran
atas apa yang sedang kita lakukan dan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin
terjadi. Kesabaran memberikan kepada kita waktu untuk berpikir tentang
tindakan-tindakan kita agar terhindar dari kekerasan dan bertindak efektif.
Ketekunan juga berarti kita harus fleksibel di dalam strategi dan taktik
kita. Jika metodanya tidak berhasil, kita perlu mencoba cara lain. Jika
jalannya mendapatkan halangan, kita dapat beralih ke hal lain yang juga
memerlukan perhatian. Jika anak didik seperti kehilangan minatnya, kita
dapat dengan kreatif mencoba pendekatan baru terhadap permasalahan. Pendidikan
tanpa kekerasan harus dipenuhi kesabaran dan memaafkan dan di saat yang sama
gigih dalam membantu. Ketika anak didik mengakui bahwa mereka sudah
melakukan kesalahan, kita harus menunjukkan sifat pemaaf kepada mereka.
Sasaran terakhir dari pendidikan tanpa kekerasan bukanlah kemenangan atas
anak-anak didik kita tetapi menemukan sebuah kehidupan yang harmonis antara
pendidik sebagai orang tua, bersama-sama dengan anak didik dalam damai dan
keadilan.
BAB III
PENUTUP
v KESIMPULAN
Kekerasan dalam pendidikan sangat bertentangan dengan berbagai landasan
dalam pendidikan antara lain, landasan hukum, psikologi, sosial budaya dan
filsafat. Hal ini dapat dicegah apabila guru melaksanakan 7 prinsip pendidikan
tanpa kekerasan. Diharapkan dengan penegakan disiplin di semua unsur, tidak
terdengar lagi seorang guru menghukum siswanya dengan marah-marah atau
menampar. Dan diharapkan tidak ada lagi siswa yang melakukan tindakan kekerasan
terhadap temannyaPendidikan dengan kekerasan hanya akan melahirkan traumatis-traumatis
yang berujung pada pembalasan dendam, dan kita semua pasti tidak menghendaki
hal demikian terus berlanjut tanpa berkeputusan yang akan melahirkan
generasi-generasi penuh kekerasan.
DAFTAR PUSTAKA
Anwariansyah. 2009. 7 Prinsip Pendidikan
TanpaKekerasan.
www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?ID=14997 diakses 28 Desember 2013
Hardianti. 2008. Kekerasan dalam Pendidikan.
NN. 2009. Menyikapi
Fenomena Kekerasan dalam Pendidikan.
http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/4781/menyikapi-fenomena-kekerasan-dalam-pendidikan
diakses 28 Desember 2013
Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Yanuar,andy.2009. Digampar
Guru, Siswa Pamekasan Ngaku Telinganya Berdengung.
http://surabaya.detik.com/read/2009/12/15/141237/1260501/475/digampar-guru-siswa-pamekasan-ngaku-telinganya-berdengung diakses 28 Desember 2013
MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN MIPA DAN HAKIKAT MIPA
Diposting oleh
Unknown
on Senin, 16 Desember 2013
/
Comments: (0)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya itu penulis dapat menyelesaikan makalah “HAKIKAT MIPA” tanpa halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan penulisan makalah ini sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik. Dan tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Dra. Jufrida, M.Si.
Penulis sadar makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis berharap saran dan kritik dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.
Dan akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan seluruh pembaca pada umumnya.
Jambi, 14 Oktober 2013
Penulis,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................
i
DAFTAR ISI ........................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang ........................................................................... 1
1.2.
Tujuan…………………………………………………..……………………………….. 1
1.3 Manfaat Penulisan
...................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Hakekat...................................................................... 2 2.2
Hakekat MIPA…….......................................................................... 2
2.3 Hakikat Matematika....................................
……........................... 3
2.4 Hakikat IPA............................................………............................... 6
2.5 Nilai-Nilai Ilmu
Pengetahuan Alam…….......................................... 8
BAB III PENUTUP
3.1.
Kesimpulan ................................................................................
11
3.2. Saran
……….................................................................................
11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa
ini , khususnya bagi para pelajar beranggapan bahwa
matematika adalah ilmu yang memusingkan dan menyulitkan. Ditambah lagi
dengan matematika yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ).
Sebagaimana para pelajar mengartikan bahwa matematika adalah ilmu hitung
menghitung yang hanya berhubungan dengan angka , sementara IPA adalah ilmu yang
berhubungan dengan lingkungan kehidupan sekitar dan mahluk hidup. Jadi ,
bagaimana bisa ada keterkaitan antara kedua ilmu tersebut.
Melihat perkembangan zaman sekarang ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Khususnya pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) , yang mana hal tersebut sangat terkait dengan perkembangan ilmu bahasa dan ilmu hitung-menghitung. Ilmu bahasa disini bukan semata-mata kita berkembang dalam hal bahasa yang biasa kita gunakan setiap hari tetapi ilmu bahasa ini justru lebih mendalam , singkat dan pasti serta dapat digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehrai-hari.
Terkait dengan hal diatas maka melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan beberapa kelebihan dan peranan Matematika dalam Ilmu Pengetahuan Alam itu sndiri agar dapat menjadi suatu pegangan untuk kita semua khususnya yang bergelutik di bigang Matimatika.
Melihat perkembangan zaman sekarang ini jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Khususnya pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) , yang mana hal tersebut sangat terkait dengan perkembangan ilmu bahasa dan ilmu hitung-menghitung. Ilmu bahasa disini bukan semata-mata kita berkembang dalam hal bahasa yang biasa kita gunakan setiap hari tetapi ilmu bahasa ini justru lebih mendalam , singkat dan pasti serta dapat digunakan sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehrai-hari.
Terkait dengan hal diatas maka melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan beberapa kelebihan dan peranan Matematika dalam Ilmu Pengetahuan Alam itu sndiri agar dapat menjadi suatu pegangan untuk kita semua khususnya yang bergelutik di bigang Matimatika.
B.
Rumusan Masalah
·
Menjelaskan tentang
Hakikat Mipa
·
Menjelaskan tentang
Hakikat Matematika
·
Menjelaskan tentang
Hakikat Ipa
·
Menjelaskan tentang
Nilai – Nilai Ipa
C. Tujuan
·
Memberikan semangat
kepada para pelajar agar tidak menjadikan matematika sebagai suatu pelajaran
yang ditakuti.
·
Menjelaskan kepada
para pelajar khususnya dan pada masyarakat umumnya mengenai peranan dan manfaat
matematika dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
·
Menjadikan para
pelajar dan masyarakat lainnya mengerti mengenai matematika yang bukan hanya
bergelutik dalam hitung-menghitung saja tetapi juga berhubungan dengan
perubahan gaya bahasa alam dan teknologi yang ada.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Hakikat
Menurut bahasa artinya kebenaran atau sesuatu yang
sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu
adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu.
2.2
Hakikat MIPA
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan
dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia
itu merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep
abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum
dalam menyelesaikan masalah. Dari istilah, IPA adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang alam sekitas beserta isinya. Hal ini berarti IPA
mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang
muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat
objektif. Jadi dari sisi istilah IPA adalah suatu pengetahuan yang bersifat
objektif tentang alam sekitar beserta isinya. Hakekat MIPA adalah Ide-ide yang
dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia yang bukan hanya bergelutik dalam
hitung-menghitung saja tetapi juga berhubungan dengan ilmu yang mempelajari
tentang alam sekitar beserta isinya dan teknologi.
A.
CIRI MIPA
a)
Pengetahuan yang sangat terstruktur
dalam arti antara bagian yang satu dengan bagian yang lain terjalin hubungan
fungsional yang erat.
b)
Karena itu konsep-konsep dan
prinsip-prinsip dalam MIPA akan lebih mudah dikuasai jika disajikan dalam
bentuk terkait satu dengan yang lain dengan simpulan-simpulan yang jelas.
c)
Penerapan berbagai pengertian dan
prinsip MIPA dalam taraf sederhana terhadap masalah alamiah seringkali
memerlukan: keterpaduan berbagai komponen MIPA, dengan Matematika sebagai dasar
logika penalaran dan penyelesaian kuantitatif sedangkan fisika, kimia, biologi
sebagai deskripsi permasalahan yang ada.
d)
Untuk menekuninya diperlukan
kecintaan yang dalam terhadap ilmu sebagai suatu sistem logis yang indah dan
ampuh.
2.3 Hakekat
Matematika
A.
DEFINISI MATEMATIKA
Istilah matematika berasal dari kata
Yunani “mathein” atau “ manthenein” , yang artinya“mempelajari”. Mungkin juga ,
kata tersebut erat hubungannya dengan kata Sansekerta “medha” atau “widya” yang
artinya “kepandaian” , “ketahuan” . atau “intelegensi”. Dalam bukuLandasan
Matematika , Andi Hakim nasution (1977 : 12 ) tidak menggunakan
istilah“ilmu pasti” dalam menyebut istilah ini. Kata “ilmu pasti” merupakan
terjemahan dari bahsa Belanda “wiskunde”. Kemungkinan besar bahwa kata “wis”
ini ditafsirkan sebagai “pasti” karena di dalam bahasa Belanda ada ungkapan
“wis an zeker”: ”zeker” berarti “pasti” , tetapi“wis” di sini lebih dekat
artinya ke “wis” dari kata “wisdom” dan wissenscaft” , yang erat hubungannya
dengan “widya”. Karena itu , “wiskunde” sebenarnya harus diterjemahkan sebagai
“ilmu tentang belajar” yang sesuai dengan arti “mathein” pada matematika.
Dalam proses belajar matematika juga
terjadi proses berpikir , sebab seseorang dikatakan berpikir apabila orang itu
melakukan kegiatan mental , dan orang yang belajar matematika mesti melakukan
kegiatan mental. Dalam berpikir , orang menyusun hubungan-hubung antara
bagian-bagian informasi yang telah direkam dalam pikirannya sebagai pengertian. Berikut ini defenisi
matematika menurut beberapa ahli :
1.
Kline (1973) mengatakan bahwa
matematika itu bukan pengetahuan yang menyendiri yang dapat sempurna karena
dirinya sendiri, tapi keberadaannya itu untuk membantu manusia dalam memahami
dan menguasai permasalahansosial, ekonomi, dan alam.
2. Jhonson dan Rising (1972) menyatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan pembuktian yang logika;
matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilahyang didefenisikan
dengan cermat, jelas,akurat, representasinya dengansimbol dan padat, lebih
berupa bahasa symbol mengenai ide daripada mengenai bunyi ; matematika adlah ilmu tentang pola, keteraturan pola atau ide.
3. James dan
James (1976) mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika
mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan
satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga
bidang, yaitu : aljabar, analisis dan geometri. Namun pembagian yang jelas
amatlah sukar untuk dibuat, sebab cabang-cabang itu semakin bercampur. Adanya
pendapat yang mengatakan bahwa matematika itu timbul karena
pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang
terbagi menjadi 4 wawasan yang luas yaitu aritmatika, aljabar, geometrid an
analisis.
4. Reys dkk
(1984) mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan
hubungan, suatu jalan atau pola berfikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu
alat.
Dari pengertian tersebut , terbentuklah
pendapat yang pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan. Dan , tentunya kemampuan
berpikir seseorang dipengaruhi oleh tingkat kecerdasannya. Dengan demikian ,
terlihat jelas adanya hubungan antara kecerdasan dengan proses dalam belajar
matematika ( Hudojo , 1990 : 5 ).
B.
CIRI KHUSUS
IPA: Kerja
sama antara ekperimen dan teori. teori IPA pemodelan matematis
terhadap berbagai prinsip dasar yang kebenarannya harus diuji dengan eksperimen
yang dapat memberikan hasil serupa dalam keadaan yang sama. Dengan
menggunakan teori dalam IPA orang dapat membuat prediksi (ramalan)
Kuantitatif terhadap suatu prestasi. Pada dasarnya eksperimen
merupakan Suatu proses induktif dalam menemukan prinsip dasar yang
baru danSuatu proses deduktif bagi pengujian teori baru.
Dalam membuat interprestasi hasil eksperimen untuk pengambilan kesimpulan diperlukan kemampuan menggunakan inferensi (kesimpulan) statistik. Inilah yang dikenal dengan metode ilmiah suatu metode yang juga digunakan ilmu – ilmu lain. alam IPA ditekankan pada proses induktif maupun deduktif. alam Matematika terutama menekankan pada proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksionatik.
Dalam membuat interprestasi hasil eksperimen untuk pengambilan kesimpulan diperlukan kemampuan menggunakan inferensi (kesimpulan) statistik. Inilah yang dikenal dengan metode ilmiah suatu metode yang juga digunakan ilmu – ilmu lain. alam IPA ditekankan pada proses induktif maupun deduktif. alam Matematika terutama menekankan pada proses deduktif yang memerlukan penalaran logis dan aksionatik.
Matematika terkenal pula dengan materinya
yang sangat hierarkhis sifatnya serta menghasilkan bahasa yang efisien yang
sangat dibutuhkan oleh Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).Dari segi kemampuan analisis
kuantitatif terhadap masalah yang berkaitan dengan pengajaran MIPA, pemodelan
matematis dalam taraf sederhana dengan menerapkan pemahaman atas berbagai
konsep dan prinsip dalam MIPA merupakan hal yang mutlak perlu dikuasai.
C.
Peranan Matematika Terhadap Ilmu Pengetahuan Alam
Menurut dugaan sejarah, kemampuan manusia
untuk mulai dapat menulis sama tuanya dengan kemampuan manusia untuk dapat
berhitung, yaitu kurang lebih 10.000 tahun sebelum masehi. Tulisan itu pada
hakekatnya simbol dari apa yang ia tulis.
Berhitung, pada awal mulanya berbentuk
korespondensi persatuan dari onyek yang dihitung. Misalnya sesorang ingin
menghitung berapa jumlah ternaknya, maka ternak itu dimasukkan ke dalam kandang
satu persatu. Tiap ekor diwakili oleh satu batu kecil, maka jumlah ternaknya
adalah jumlah batu kecil itu. Dengan sekantung batu-batu itu ia dapat
mengontrol apakah ada ternak yang belum kembali atau hilang atau malah
bertambah karena beranak.
Jadi, setiap awal kehidupan manusia
matematika itu merupakan alat bantu untuk mengatasi setiap permasalahan
menghadapi lingkungan hidupnya. Sumbangan matematika terhadap perkembangan IPA
sudah jelas bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa matematika IPA tidak akan berkembang.
Hal ini disebabkan oleh karena IPA menggantungkan diri dari metode induksi.
Dengan metoda induksi semata tak mungkin orang mengetahui jarak antara bumi dan
bulan atau bumi dnegan matahari, bahkan untuk menyatakan keliling bumi saja
hampir tidak mungkin. Berkat bantuan matematikalah maka Erathotenes (240 SM)
pada zaman Yunani dapat menghitung besarnya bumi dnegan metode gabungan antara
induksi dan deduksi matematika
Adapaun
ahli-ahli matematika yang banyak sumbangannya dalam Ilmu Pengetahuan Alam , antara
lain :
1.
Pythagoras mengadakan perhitungan
terhadap benda-benda berbentuk segi banyak.
2.
Apollonius mengadakan perhitungan
pada benda-benda yang bergaris lengkung. Kepler (1609) berjasa dalam
perhitungan jarak predaran yang berbentuk elips dari planet-planet.
3.
Galileo (1642) berjasa dalam
menetapkan hokum lintasan peluru , gerak dan percepatan.
4.
Huygnes (1695) dapat memecahkan
teka-teki adanya CINCIN SATURNUS , perhitungan tentang kecepatan cahaya , yaitu
600.000 kali kecepatan suara ( pada masa itu orang beranggapan bahwa cahaya tak
membutuhkan waktu untuk memancar).
Ini
semua adalah sekedar gambaran yang menunjukkan bahwa perkembangan Ilmu
Pengetahuan Alam selalu ditunjang atau secara mutlak membutuhkan tunjangan
matematika.
D. IPA Kualitatif dan Kuantitatif
Telah
kita ketahui bahwa penemuan-penemuan yang di dapat oleh Copernicus sampai
Galileo pada awal
abad ke-17 merupakan printis ilmu pengetahuan. Artinya bahwa penemuanpenemuan
berdasarkan empiris dengan metode induksi yang objektif dan bukan atas dasar
deduksi filosofik. Penemuan-penemuan itu misalnya saja bahwa di bulan terdapat
gununggunung, Yupiter mempunyai 4 buah bulan dan sebagainya. Penemuan-Penemuan
semacam ini kita sebut sebagai ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kualitatif.
Ilmu Pengetahuan Alam yang kualitatif ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang
sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat , Ilmu Pengetahuan Alam kualitatif
itu hanya mampu menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya factual.
Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya kausal ,
diperlukan perhitungan secara kuantitatif. Contoh : misalnya , seseorang
memlihara itik dengan makanan tradisional biasa , itik bertelur 15 butir dalam
sebulan. Kemudian orang itu menambahkan keong racun sebagai makanan tambahan
bagi itiknya , ternyata bertelur lebih banyak , yaitu 20 butir sebulan. Dari
kenyatan ini belum dapat ditarik kesimpulan adanya keong racun menambah telur
itiknya , karena masih bersifat kasus , artinya menambah saja itu suatu kebetulan
terjadi pada seekor itik ( kasusu ). Namun bila percobaan itu dilakukan
terhadap 1.000 ekor iti dan 999 ekor itik berkelakuan seperti kasus tersebut di
atas , maka kemungkinan besar bahwa memang benar itu berlaku umum sehingga
dapat disimpulkan bahwa memang ada pengaruhnya penambahan makanan keong racun
terhadap jumlah telur yang dihasilkan. Kesimpulan yang dapat ditarik
berdasarkan induksi (eksperimentasi ) dan deduksi (perhitungan matematika atau
statistik) : Jadi , Ilmu Pengetahuan Alam Kuantitatif adalah Ilmu Pengetahuan
Alam yang dihasilkan oleh metode ilmiah yang didukung oleh data kuantitatif ini
dapat disebut juga sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Modern.
Segala
yang diketahui manusia itu adalah “ Pengetahuan “. Pengetahuan itu dapat
digolongkan menjadi dua bagian , yaitu :
1.
Pengetahuan Non-Ilmiah didapat antara lain dari prasangka coba-coba , intuisi ,
dan tidak sengaja.
2.
Pengetahuan Ilmiah di dapat dari usaha yang dasar ( sengaja ) dengan syarat :
objektif , metodik , sistematik , dan berlaku umum.
Peranan
matematika dalam IPA antara lain adalah sebagai factor penunjang untuk memahami
alam semesta dan dapat menjelaskan sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh
pengalaman empiric. Contohnya antara lain adalah menghitung besarnya bumi ,
jarak bumi mengelilingi matahari , dan sebagainya.
4.4
Hakikat IPA
A. Pengertian
IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang
berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23) merupakan “pengetahuan hasil
kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta
diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek,
bermetode dan berlaku secara universal”
Menurut kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006)
bahwa “IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis,
sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep,
atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”.
Ilmu adalah pengetahuan yang
ilmiah.Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia.Dari dua
pengertian tersebut dapat digabungkan yaitu IPA sebagai ilmu yang mempelajari
tentang sebab dan akibat kejadian-kejadian yang ada di alam ini.( Soekarno,
1973;1).
IPA adalah body knowledge. IPA
adalah suatu cabang pengetahuan yang mengangkat fakta-fakta yang tersusun
secara sistematis dan menunjukkan berlakunya hukum-hukum umum. IPA merupakan
pengetahuan yang didapat dengan jalan study dan praktik. IPA juga dapat
diartikan sebagai suatu cabang study yang bersangkut-paut dengan observasi dan
klasifikasi fakta-fakta terutama dengan disusunnya hukum umum dengan induksi
dan hipotesis. (Subiyanto,1998: 2).
Definisi lain tentang IPA yang
lengkap diberikan oleh Collete (1994:30), science should be viewed as a
way of thinking in the pursuit of understanding nature, asa way of investigating
claims about phenomenon and as body of knowledge that has resulted from
inquiry. (Ilmu Pengetahuan Alam harus dipandang secara berfikir dalam pencarian
tentang pengertian rahasia alam dan sebagai batang tubuh pengetahuan yang
dihasilkan dari inquiry )
Dari pendapat diatas maka dapat
disimpulkan bahwa IPA merupakan sekumpulan pengetahuan tentang objek dan
fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang
dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah.
Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang
dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan
diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan
aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam.
Dengan demikian, pada hakikatnya IPA meliputi tiga cakupan yaitu IPA
sebagai produk, IPA sebagai proses dan IPA sebagai sarana
pengembangan sikap ilmiah.
·
Hakikat IPA sebagai
produk meliputi konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori di
dalam IPA yang merupakan hasil rekaan manusia dalam rangka memahami dan
menjelaskan alam bersama dengan berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya.
Produk IPA (konsep, prinsip,hokum dan teori) tidak diperoleh berdasarkan fakta
semata, melainkan berdasar-kan data yang telah teruji melalui serangkaian
eksperimen dan penyelidikan.
·
Hakikat IPA sebagai
proses diwujudkan dengan melaksanakan pembelajaran yang melatih ketrampilan
proses bagaimana cara produk sains ditemukan. yaitu dengan melakukan
observasi, mengukur, memprediksi, mengklasifikasi,membandingkan,
menyimpulkan, merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen,
menganalisis data, dan mengkomunikasikan hasil penelitian. Dalam pengajaran
IPA, aspek proses ini muncul dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Ada
tidaknya aspek proses ini sangat bergantung pada guru.
·
Hakikat sikap ilmiah adalah berbagai
keyakinan, opini dan nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh seorang ilmuwan
khususnya ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru. Sikap dapat
diklasifikasi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, seperangkat sikap yang bila
diikuti akan membantu proses pemecahan masalah; dan kedua, seperangkat sikap
tertentu yang meru-pakan cara memandang dunia serta berguna bagi pengembangan
karir di masayang akan datang (T. Sarkim, 1998:134).
B.
Fungsi Dan Manfaat IPA
Untuk mengenal apa IPA itu, kita
juga dapat menjelaskan melalui segi fungsinya. Dari berbagai pustaka dapat
dirangkum bahwa fungsi IPA itu ada lima, yaitu untuk:
Dapat kita simak dari fakta sejarah,
bagaimana IPA terbagun dari pola berpikir manusia yang berkembang dari zaman ke
zaman. Di sisi lain, IPA itu sendiri juga dapat membangun pola berpikir manusia
dengan ciri-ciri khusus.
Dalam menjelaskan sesuatu, IPA mempunyai
ciri-ciri yang khusus, yaitu :
v
Analitis, artinya
lengkap mendeskripsikan semua bagian dari objekpenelitiannya, serta hubungan
antara satu bagian dengan bagian lainnya.
v
Logis, artinya
dapat diterima oleh akal.
v
Sistematis, artinya disusun
secara logis dan sistematis sehingga tampak jelas tata urutan serta hubungan
satu dengan yang lain dan jelas pula bahwa tidak ada kebenaran ilmu pengetahuan
yang bertumpang tindih dalam arti berlawanan satu dengan yang lain.
v
Kausatif, maksudnya
IPA menjelaskan mengapa segala gejala alam itu terjadi.
v
Kuantitatif, yang
meliputi tiga arti:
v
Kesimpulan yang
diuji kebenarannya melalui statistika,
v
Penjelasannya
disertai dengan angka-angka dengan besaran hasil pengukuran atau dengan
rumusan-rumusan matematika,
v
Kuantitatif dalam
artiannya yang tak langsung menyatakan kecermatan pengukuran.
Menurut Carl Hempel ada dua tujuan IPA
dalam menjelaskan berbagai gejala alam ini, yaitu:
§
Untuk hal yang
bersifat praktis, maksudnya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
§ Untuk memenuhi hasrat ingin tahu.
Peramalan dari IPA ini adalah peramalan
yang didasarkan atas adanya konsistensi atau keteraturan dari
gejala-gejala alam. Kunci pokok dari sesuatu yang dapat digunakan untuk
meramalkan itu adalah adanya keteraturan yang konsisten.
Dengan IPA orang bisa mengolah sumber
daya alam. Orang juga dapat mendirikan industri-industri untuk
menghasilkan barang-barang bagi kesejahteraan manusia. Dengan IPA orang dapat
mempermudah hubungan komunikasi maupun transportasi. Dengan IPA orang dapat
mencegah atau menghindari malapetaka akibat gejala alam.
Suatu gejala alam mungkin sekali tak
terulang kejadiannya sehingga IPA dalam hal ini selaku kumpulan pengetahuan
yang logis dan sistematis secara tak langsung merekam gejala-gejala alam,
misalnya kehadiran komet, pergeseran benua, perubahan flora dan fauna.
Sedangkan maanfaat IPA sendiri adalah untuk mengembangkan sikap ilmiah antara lain:
Sedangkan maanfaat IPA sendiri adalah untuk mengembangkan sikap ilmiah antara lain:
Ø
sikap ingin tahu
(curiousity)
Ø
sikap ingin
mendapatkan sesuatu yang baru (originality)
Ø
sikap kerja sama
(cooperation)
Ø
sikap tidak putus
asa ( perseverance)
Ø
sikap terbuka untuk
menerima (open-mindedness)
Ø
sikap mawas diri
(self critism)
Ø
sikap bertanggung
jawab (responsibility)
Ø
sikap berpikir
bebas (independence in thinking)
Ø
sikap kedisiplinan
diri (self discipline)
3
Nilai-Nilai Ilmu Pengetahuan Alam
«
Nilai-Nilai Sosial dari IPA
1) Nilai
etik dan estetika dari IPA
Ilmu Pengetahuan Alam mempunyai
nilai-nilai etik dan estetika yang tinggi. Nilai-nilai itu terutama terletak
pada sistem yang menetapkan ‘kebenaran yang objektif’ pada tempat yang paling
utama. Adapun proses IPA itu sendiri dapat dianggap sebagai suatu latihan
mencari, meresapkan, dan menghayati nilai-nilai luhur.
2) Nilai
moral atau humaniora dari IPA
Nilai-nilai
moral atau humaniora dari IPA nampaknya mempunyai dua muka yang
berlawanan arah. Muka yang menuju kepada cita-cita kemanusiaan yang luhur
sedang muka yang lain menuju kepada tindak immoral yang tidak saja dapat
melenyapkan nilai-nilai luhur namun dapat melenyapkan eksistensi manusia itu
sendiri.
IPA dan teknologi sekedar alat yang
sangat tergantung dari manusianya yang berada di belakang alat itu, untuk apa
itu akan digunakan. Dengan kata lain, IPA itu sendiri adalah ‘suci’, yang tidak
suci itu ialah manusianya.
3) Nilai
ekonomi dari IPA
Seorang ahli IPA, mungkin ia telah
bertahun-tahun melakukan suatu penelitian. Katakanlah ia menemukan suatu kaidah
dari suatu fenomena tertentu. Apakah temuannya itu mempunyai niali ekonomi?
Memang tidak dapat dikatakan dengan tegas karena nilai ekonominya tidak
langsung. Ini baru menjadi kenyataan bila temuan itu dapat digunakan untuk
memproduksi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.lain daripada itu, bagi
sang penemu, keberhasilannya itu dapat meningkatkan harga diri atau kepercayaan
masyarakat terhadap dirinya. Ini berarti temuannya itu dapat memberi ‘nilai
tambah’ bagi dirinya.
«
Nilai-Nilai
Psikologis/Paedagogis IPA
1) Sikap
mencintai kebenaran
IPA selalu mendambakan kebenaran yaitu
kesesuaiannya pikiran dan kenyataan. Oleh karena itu mereka yang selalu
terlibat dalam proses IPA diharapkan mendapatkan imbas atau dampak positif
berupa sikap ilmiah yang demikian itu.
2) Sikap
tidak purbasangka
Kita boleh saja mengadakan dugaan yang
masuk akal (hipotesis) asal dugaan itu diuji kebenarannya sesuai dengan
kenyataannya atau tidak, baru menetapkan kesimpulan. Dalam kehidupan sehari-hari
sikap purbasangka sangat sering menimbulkan bencana pertengkaran dan hidup ini
menjadi tidak tenang dan tidak bahagia.
3) Sadar
bahwa kebenaran ilmu yang diciptakan manusia itu tidak pernah mutlak
Kesimpulan seorang ilmuwan dapat hanya
berlaku untuk sementara atau menyadari bahwa pengetahuan yang ia dapat itu baru
sebagian, maka hal ini akan menjadikan orang itu bersikap rendah hati dan tidak
sombong.
4) Yakin
akan adanya tatanan alami yang teratur dalam alam semesta ini
Dengan mempelajari tentang hubungan antar
gejala alam dan mendapatkan/menemukan adanya kaidah-kaidah atau hukum-hukum
alam yang ternyata begitu konsisten aturan-aturannya maka orang akan menyadari
bahwa alam semesta ini telah ditata dengan sangat teratur. Hal ini dapat
memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
5) Bersikap
toleran atau dapat menghargai pendapat orang lain
Menyadari bahwa pengetahuan yang ia
miliki bersifat tidak mutlak sempurna maka ia dapat menghargai pendapat orang
lain ternyata lebih mengetahuinya atau lebih sempurna untuk memperbaiki,
melengkapi, maupun untuk meningkatkan pengetahuannya.
6) Bersikap
tidak putus asa
Orang-orang yang berkecimpung dalam IPA,
mereka menggali atau mencari kebenaran. Mereka akan bahagia bila mendapatkan
kebenaran yang mereka yakini itu. Apalagi bila kebenaran itu juga dapat membuat
orang lain sejahtera dan bahagia dalam hidupnya. Oleh karena itu mereka tidak
pernah putus asa dan selalu berusaha untuk mencari kebenaran itu walaupun
seringkali tidak memperoleh apa-apa.
7) Sikap
teliti dan hati-hati
Seorang ilmuwan IPA memiliki sifat teliti
dalam melakukan sesuatu serta hati-hati dalam mengambil kesimpulan ataupun
dalam mengelurkan pendapatnya.
8) Sikap
‘curious’ atau ‘ingin tahu’
Para ilmuwan atau mereka yang
berkecimpung dalam IPA akan didorong untuk ingin tahu lebih banyak, karena ilmu
pengetahuan itu merupakan sistem yang utuh sehingga pengetahuan yang satu akan
menunjang untuk mudah memahami yang lain, dan pengetahuan yang mereka dapatkan
tentu akan memberikan ‘reinforcement’ untuk mendorong mereka mencari tahu lebih
banyak.
9) Sikap
optimis
Ilmuwan IPA selalu optimis, karena mereka
sudah terbiasa dengan suatu eksperimentasi yang tak selalu menghasilkan sesuatu
yang mereka harapkan, namun bila berhasil, temuannya itu akan memberikan
imbalan kebahagiaan yang tak ternilai dengan uang. Oleh karena itu ilmuwan IPA
berpendirian bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang tidak mungkin dikerjakan.
C. Keterbatasan
IPA
1)
IPA tidak
menjangkau untuk menguji kebenaran adanya Tuhan, karena IPA sengaja membatasi
diri pada alam fisik. Tentang hubungan IPA dengan adanya Tuhan ini ada suatu pernyataan yag
menarik dari A.T. Bawden (1957) dalam bukunya Man’s Physical Universe, yang
mngatakan :
“Otak kita mampu
membuat kesimpulan tentang nilai-nilai, tentang adanya tuhan, tentang adanya
kehidupan yangabadi dan sebagainya, namun IPA pada saat ini belummemiliki cara
untuk menguji kebenarannya. Ini tidak berarti bahwa adanya masalh rahasia yang
IPA tak berani menyentuhnya lalumembiarkannya seperti apa adanya,tetap tinggal
diluar kawasan IPA untuk selamanya.ini sebenarnya berarti bahwa bayak
kesimpulan penting dariumat manusia harus diterima atas dasar percaya sampai
dinding tebal dari kebodohan dapat terkuakkan.”
2)
IPA tidak dapat
menjangkau secara sempurna tentang objek pengamatannya
3)
IPA tidak
menjangkau masalah etika (tata krama) yang mempermasalahkan tingkah laku yang
baik atau buruk. Juga tak menjangkau masalah estetika yang tersangkut paut
dengan keindahan. Juga tidak mungkin tentang sistem nilai.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
MIPA
sebagai suatu kumpulan mata pelajaran, hendaknya jangan hanya dipandang sebagai
:
Matematika
merupakan alat bantu untuk mengatasi sebagian permasalahan menghadapi
lingkungan hidupnya. Jadi , MIPA disini berarti bahwa Matematika dalam Ilmu
Pengetahuan Alam ( IPA ) memiliki peran dan hubungan erat baik dalam hal bahasa
maupun hitungan dan sebagainya.
Karena seperti yang telah diketahui bahwa
Matematika itu merupakan bahasa alam , sehingga terkait dengan ilmu pengatehuan
alam itu sendiri maka tanpa matematika IPA tidak akan berkembang.
B. Saran
§
Janganlah kita yang
awam akan ilmu matematika ini beranggapan bahwa matimatika itu sulit ,
menakutkan , kurang bermanfaat dan lain sebagainya.
§
Jadikanlah
matematika itu ilmu yang paling berguna dari semua bidang ilmu yang ada.
Sebagaimana yang telah kita dengar bahwa memang Ilmu Matematika adalah
gudanganya ilmu dari semua bidang ilmu yang ada.
DAFTAR PUSTAKA




